BUTIRAN-BUTIRAN DO'A
Mulai pandemi covid-19 melanda tanah air tercinta, HP yang biasanya kuletakkan begitu saja menjadi sering kubawa pada jam-jam khusus. Atau kalau harus kuletakkan kupasang dengan suara keras sampai 100%. Dalam hatiku berkata, jika si dia telephon aku bisa segera berlari mengejarnya dan segera menyambutnya. Kalau sampai terlewat maka kecewa dan pedihnya tidak terbeli. Rasa sesak di dada, dan rasa apa lagi yang tidak bisa kubahasakan. Hanya butiran-butiran bening menghangat di sudut mata. Yaa Alloh.... maafkan ibu nak, pasti engkau sangat kecewa, disaat engkau harus berlari dan berjajar antri bahkan engkau rela tidak makan untuk menumpahkan deretan kisahmu ternyata harus menelan kekecewaan. Namun jangan engkau kira ibu tidak kecewa, ibu jauh lebih sakit disaat harus lupa atau tertinggal mengangkat telephonmu. Sudah menjadi kesepakatan kita bahwa engkau yang telephon karena kalau ibu yang telephon mungkin engakau sedang sibuk dengan kegiatan. Disamping itu juga sangat suli...