BUTIRAN-BUTIRAN DO'A
Mulai pandemi covid-19 melanda tanah air tercinta, HP yang biasanya kuletakkan begitu saja menjadi sering kubawa pada jam-jam khusus. Atau kalau harus kuletakkan kupasang dengan suara keras sampai 100%. Dalam hatiku berkata, jika si dia telephon aku bisa segera berlari mengejarnya dan segera menyambutnya. Kalau sampai terlewat maka kecewa dan pedihnya tidak terbeli. Rasa sesak di dada, dan rasa apa lagi yang tidak bisa kubahasakan. Hanya butiran-butiran bening menghangat di sudut mata. Yaa Alloh.... maafkan ibu nak, pasti engkau sangat kecewa, disaat engkau harus berlari dan berjajar antri bahkan engkau rela tidak makan untuk menumpahkan deretan kisahmu ternyata harus menelan kekecewaan. Namun jangan engkau kira ibu tidak kecewa, ibu jauh lebih sakit disaat harus lupa atau tertinggal mengangkat telephonmu. Sudah menjadi kesepakatan kita bahwa engkau yang telephon karena kalau ibu yang telephon mungkin engakau sedang sibuk dengan kegiatan. Disamping itu juga sangat sulit untuk dapat masuk karena antrinya yang banyak.
Nak, Jauh di hati yang paling dalam, ibu selalu mengirimkan butiran-butiran do'a untuk mu. Kalau disana engkau sedang berjuang menempa diri untuk kemaslahatan diri, keluarga, umat, dan agama, bukan berarti ibu tinggal diam. Sebisa mungkin juga ikut ambil bagian. Masih terngiang dalam telinga ibu, meskipun sudah lebih sepuluh tahun yang lalu ketika salah satu Ustadz membekali para santri yang akan masuk pondok, bahwa santri pondok adalah generasi pejuang bukan penikmat. Santri harus tetap berjuang bahkan jika nanti sudah di masyarakat.
Semenjak bulan syawal engkau harus kembali ke pondok. Ibu dan bapak hanya bisa mengantar sampai terminal Kediri, itupun dengan protokol kesehatan yang ketat dan perlengkapan surat sehat dan cek kesehatan. Bersama rombongan bus konsulat dan panitia dari alumni menuju pondok putri Kampus di Kabupaten Ngawi.
Sedang lima hari sebelumnya kakakmu Mbak Kamila sudah kembali ke Pondok karena sudah kelas 5. Kakakmu yang di Pondok Putri Kediri masih boleh di antar karena Pondok ada di wilayah Konsulat Kediri. Itupun juga dengan surat dokter baik pengantar maupun yang diantar dengan hanya satu orang pengantar. Sungguh ibu sangat terkejut saat keesokan harinya di telphon oleh ustadzah bahwa surat doktermu tidak ada dan ibu berjanji akan segera mengirimkan lewat no HP itu juga. Dan Alhamdulillah ibu segera bisa mengirimkan surat dokter.
Sambil mengirim surat ibu seraya meminta maaf atas keteledoran putri saya dan mohon bimbingannya. Dan setelah sholat asyar telephon berdering segera kuraih. "Assalamu'alaikum....Ibuu" sapa Kamila dan "wa'alaikum salam" jawabku....sambil menangis Ihdia menceritakan bahwa sehari semalam ia di karantina di Gedung belakang sendirian karena surat dokternya tidak ada, sampai datang surat dokter baru dikirim. Kunasehati untuk lebih disiplin, mungkin surat itu jatuh sudah di Pondok karena tadi di tengah perjalanan dalam kendaraan sudah di cek lagi surat dokter, kelengkapan surat jalan dan administrasi, rapor mental dan buku saku catatan harian. Semua persyaratan sudah lengkap, namun begitulah sedikit saja ceroboh bisa fatal.
Hari-hari berlalu kedua putriku sudah tinggal di pondok lagi, ada rasa yang berbeda setelah hampir 2 bulan bersama mereka saat liburan pondok. Liburan ini mereka full di rumah tidak seperti biasanya, saat liburan biasa dimanfaatkan untuk tambahan bahasa di kampung Inggris Pare. Tapi liburan ini ia dirumah menyelesaikan karantina mandiri 14 hari dan sebelum kembali juga wajib karantina juga. Selain membantu saya dirumah kegiatan anak-anak membantu Utinya menjemur cengkeh, Latihan sepeda Motor dan Najma memaksimalkan secara otodidak keyboard tentang kunci-kunci katanya. Sedangkan Kamila lebih banyak berlatih materi pelajaran nahwu dan shorof bersama mas Fatih dan Mbak Fitri.
Mbak Fitri adalah putri nomor 2 paling lama di rumah. sejak pandemi ia kuliah daring di rumah, sedangkan pondoknya sementara libur karena pandemi. Baru bulan September kemarin ia kembali ke malang karena Pondok sudah masuk meskipun kuliahnya tetap daring. Mbak Fitri juga alumni Pondok Putri di Ngawi juga. Ia belajar selama 6 tahun dan pengabdian selama satu tahun di Pondok alumni Al Abror di pedalaman Tapanuli Selatan. Mbak Fitri adalah sosok yang sangat mandiri dan disiplin serta tegas. Bakat organisasinya tertempa saat dia menjadi pengurus OPPM (semacam OSIS) sampai di UKM Debat. Alhamdulillaah beberapa waktu lalu pernah meraih prestasi bidang ini juga.
Begitu juga dengan putra sulungku mas Fatih. Saat ketiga putriku sudah di rumah, ia masih menjadi santri akhir di Pondok Pesantren Sukun Malang untuk menunggu di wisuda, walau akhirnya karena pandemi tidak jadi di wisuda. Sedianya kami juga akan menghadiri namun kehendak Alloh Swt tidak seperti yang kita rencanakan. begitu juga dengan kegiatan kuliahnya yang sudah semester 8, harus segera menyelesaikan skripsi. Alhamdulillah hasil kerja kerasnya diijabah Alloh swt, sehingga dapat ujian skripsi sebagaimana yang diharapkan bersama orang tua.
Mas Fatih adalah sosok kakak panutan adik-adiknya dalam belajar. Keberhasilannya mendapat beasiswa unggulan kemendikbud selama kuliah S.1 menginspirasi adik-adiknya untuk dapat mengikuti jejak dan perjuangannya. Keaktifan di berbagai kegiatan dan organisasi kampus telah ikut menguatkan karakternya. Terutama saat membimbing dan mengarahkan adik-adiknya cukup disiplin meski kadang sambil bercanda. Pribadinya yang tawadu' dan sedikit kurang PD diwarisi dari Utinya yang memeng sangat dekat sampai sekarang. Bahkan setiap kali pulang dari pondok selalu menuju rumah Utinya baru pulang kerumah esok harinya. Semenjak lulus SD ia melanjutkan di salah satu pondok pesantren di Ponorogo selama 6 tahun ditambah pengabdian selama 1 tahun. Lulus KMI sediannya ingin belajar di timur tengah namun rizki dan kesempatan belum berpihak, sehingga ia harus melanjutkan di malang.
Begitulah kegiatan anak-anak selama di rumah liburan, dan kini keadaannya kembali seperti sebelum mereka semua libur. Saya bersama Bapaknya anak-anak di rumah. Bahkan ketika mereka pulang liburan semester dengan kesadaran melakukan karantina mandiri, kecuali mbak Fitri yang pulang paling awal belum ada karantina. Sedangkan mas Fatih karantina mandiri di rumah Uti, Itupun ia memilih tidur di Mushola selama hampir 2 Minggu. Sedangkan najma saat sampai rumah, bahkan belum duduk sudah dipantau langsung dari Babinsa. Ini karena sebelum pulang, Pondok sudah koordinasi untuk memulangkan santri, dengan Gubernur, Bupati, Polres dan Kodim setempat. Nama-nama santri, nama orang tua, alamat dan no hp orang tua sudah terlampir sehingga memudahkan petugas. Mulai dari terminal santri sudah disambut petugas dari Polres, Kodim, Petugas Kesehatan lengkap. Sedangkan Mbak Ihdia karena pondok berada di wilayah konsulat Kediri perpulangannya di jemput di Pondok.
Saat ini, ketika mereka berempat sudah berada di Pondok dan sampai saat ini kami belum bisa menjenguk putriku yang di Pondok. Setiap saat hanyalah butiran-butiran do'a yang selalu kulantunkan. Dalam tidur dan terjaga, dalam duduk, berdiri dan terbaring sekalipun selalu kukucurkan butiran-butiran do'a. Allohumma sholi 'ala sayidina muhammad wa'ala ali sayidina Muhammad, Alhamdulillahirobbil'alamin.. Yaa...Allooh Yaa Robbi kuserahkan kepadaMu, aku bermohon kepadaMu jadikanlah putra-putriku anak yang sholih sholihah, ahli ilmi wal khoir, ahli ibadah istiqomah, sehatkanlah jiwa dan raganya, mudahkanlah segala urusannya dan kabulkanlah cita-citanya serta mudah-mudahan ujian semester ini lancar dan dapat menjawab dengan benar. Hanya kepadaMu lah kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan, Kabulkanlah do'a kami...Al-Faatihah.
Jejak2 kekasih Alloh..insyaa Alloh...
BalasHapus