3.1.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Seorang Pemimpin

 

3.1.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 3.1

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Seorang Pemimpin

SADIYATUL MUNAWAROH

CGP A7.213 Kabupaten Tulungagung

SMPN 3 BANDUNG


Kiranya kita patut merenungkan kutipkan kalimat bijak berikut ini: “ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ” (Bob Talbert).Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pada hakikatnya ini mengembangkan potensi seseorang untuk manusia yang utuh melalui pemberdayaan potensi peserta didik untuk membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan kalimat bijak berikut: Education is the art of making man ethical. Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis. ~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~.

Pendidikan merupakan suatu proses menuntun siswa dalam pengembangan karakter dan potensinya sehingga memiliki nilai moral, kebajikan, kebenaran dan ketrampilan untuk menjalankan kehidupan masa depan. Untuk itu sebagai seorang guru dituntut menjadi pribadi yang dapat diteladani dan profesional dalam pengambilan keputusan berdasar nilai-nilai kebajikan universal yang berpihak kepada murid. Dalam Pengambilan keputusan ini seringkali dihadapkan pada dilema etika atau  bujukan moral, karena itu diharapkan dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini dan tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Dalam pengambilan keputusan ini guru harus menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka dalam pendidikan sebagai sistim among yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho artinya guru sebagai pemimpin pembelajaran  harus mampu memberi teladan pada murudnya, Ing Madya Mangunkarsa artinya guru mampu menjalain komunikasi yang efektif sehingga mampu memberikan semangat dan motivasi di tengah-tengah muridnya dan Tut Wuri handayani artinya ketika di belakang guru dapat memberi dorongan dan motivasi sehingga murid berkembang potensinya.  Proses menuntun murid ini dalam mengambil keputusan guru seringkali dihadapkan dalam situasi yang mengandung dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan sebuah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih dua pilihan. Di mana kedua pilihan benar secara moral, tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral adalah sebuah situasi ketika pendidik harus memilih keputusan benar atau salah.

Menghadapi hal tersebut sesuai pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka terhadap sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran seorang guru harus dapat memahami dan menyadari bahawa dalam lingkungan sekolah akan ditemukan dilema etika dan bujukan moral. Karena itu guru harus memiliki kompetensi dan dapat berperan menjadi sosok teladan yang positif, motivator, dan sekaligus moral support bagi muridnya. Dan untuk memecahkan masalah terkait dilema etika dan bujukan moral seorang pemimpin pembelajaran/sekolah dapat berpedoman pada  4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan mengacu pada 9 langkah pengambilan keputusan, yang selanjutnya melakukan pengujian atas keputusan yang sudah diambil. 

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita akan menentukan cara pandang terhadap situasi atau masalah, prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan yang kita lakukan. Seorang guru/kepala sekolah yang memiliki dan memegang teguh nilai-nilai kebajikan dalam dirinya baik karakter moral maupun karakter kinerja akan memiliki prinsip yang jelas dalam setiap pengambilan keputusan. Prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan tentunya berkaitan dengan nilai- nilai yang tertanam dalam diri. Misalnya, guru yang memiliki empati yang tinggi, rasa kasih sayang dan kepedulian cenderung akan memilih prinsip Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Sedangkan guru yang memiliki sikap jujur dan komitmen yang kuat untuk tunduk pada peraturan cenderung memilih prinsip Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking). Dan guru yang reflektif dan memiliki jiwa sosial yang tinggi cenderung memilih prinsip Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking).

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.

Selama proses pembelajaran, pendampingan dalam pengujian pengambilan keputusan melalui kegiatan coaching (bimbingan) yang dilakukan oleh  fasilitator saya rasakan sangat efektif dan membantu pemahaman saya pada materi yang dipelajari. Beberapa praktik praktik coaching dapat memberi gambaran yang lebih mantap dengan prinsip kesetaraan dan perhatian penuh menimbulkan rasa nyaman pada cooache dan coach dapat menggali dan menyampaikan pertanyaan berbobot sehingga berbagai  hambatan dapat menemukan solusi yang sesuai. Selanjutnya dalam materi pengambilan keputusan ini memiliki hubungan yang erat dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang pernah dilakukan pada modul sebelumnya. Jika pada proses coaching kita membantu agar coachee dapat membuat keputusannya secara mandiri maka dalam modul ini kita kembali melakukan refleksi apakah keputusan yang dibuat tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan hasil pengambilan keputusan semakin tajam, matang dan tidak menimbulkan permasalahan baru.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Guru yang memiliki kemampuan mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan masalah dilema etika. Kepekaan sosial emosional yang sudah matang akan memberikan wawasan yang lebih luas dalam pengambilan keputusan berdasarkan berbagai macam sudut pandang pada pengambilan keputusan. Guru akan semakin bijaksana dan mendasarkan keputusannya pada berbagai identifikasi dan pertimbangan yang matang, mantap dan dapat dipertanggung jawabkan untuk kepentingan lebih besar pada kebutuhan murid dan masa depan murid. 

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika akan semakin mengasah kemampuan dan melatih ketajaman dan ketepatan dalam mengidentifikasi, mementukan paradigma pemgambilan keputusan, menentukan prinsip, melakukan uji dan menentukan langkah yang akan dilakukan. Pembahasan dari studi kasus ini juga semakin menumbuhkan sikap empati dan simpati seorang pendidik kepada permasalahan siswa. Pendidik akan melihat kasus tidak hanya dari satu sudut pandang tetapi akan memanfaatkan berbagai sudut pandang sehingga akan semakin bijak dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Ia akan menjadi pribadi yang lebih bermanfaat dengan mengutamakan kepentingan yang lebih besar bagi murid dan masa depannya. 

Keputusan yang diambil akan dipengaruhi juga oleh nilai-nilai yang dianutnya,  jika nilai-nilai yang dianutnya berdasarkan nilai-nilai kebajikan maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma/aturan yang berlaku.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman bagi murid, guru dan semua komponen sekolah. Kondisi ini akan dapat meningkatkan iklim belajar yang lebih baik untuk dapat mengembangkan potensinya serta menumbuhkan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan terhadap kasus - kasus dilemma etika adalah tentu ada pihak yang merasa kurang puas atas keputusan karena perbedaan pandangan nilai-nilai yang dipegang teguh kadang membuat kita gamang dan harus semakin menguatkan diri dan kolaborasi. Selanjutnya paradigma yang sudah tertanam begitu lama di benak warga sekolah (kepala sekolah, guru, murid, wali murid dan masyarakat) dan telah menjadi budaya tentu akan menjadi sebuah tantangan dan sulit dihilangkan. Menghadapi kasus dilema etika tersebut harus fokus dan memalui prosedur yang ada dan disepakati sehingga akan menumbuhkan toleransi, dukungan yang kuat dan dapat diterima semua pihak.

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran memerdekakan murid -murid kita adalah terciptanya merdeka belajar. Dengan merdeka belajar, murid bebas mencapai kesusksesan, kebahagiaan sesuai minat dan potensinya tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak manapun. Hal ini diharapkan murid-murid akan sukses dengan bidangnya masing-masing, bahagia karena sesuai dengan apa yang diinginkannya dan bertanggungjawab akan apa yang menjadi pilihannya. Disinilah dasar pijakan kita bahwa semua pengambilan keputusan harus berpihak pada murid, dan guru berfungsi untuk memfasilitasi, membantu mengembangkan bakat dan minat yang sudah ada. 

Merdeka belajar adalah pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, memotivasi, memantang dan menumbuhkan prakarsa murid untuk mengembangkan potensi, minat dan bakatnya. Pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda-beda adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya/ berdiferensiasi dan dapat menerapkan pembelajaran sosial emosional sehingga siswa betul-betul merasa diperhatikan dan dilayani dengan baik. 

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran akan berpengaruh pada kehidupan masa depan murid sehingga guru harus mempertimbangkan secara matang setiap keputusan yang diambil. Guru tidak sekedar mahir mengajar namun keputusan guru dalam melakukan proses pembelajaran dapat menginspirasi murid untuk berfikir dan bertindak maju ke masa depan, memiliki motivasi berubah lebih baik dan bermakna. Pada posisi ini guru akan menjadi sosok yang dibanggakan, dikenang dan role model yang membawa dampak tidak hanya saat ini dan prestasi hari ini tetapi juga untuk jangka panjang.

10. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang saya peroleh dari pembelajaran materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya bahwa pengambilan keputusan berlandaskan pada filosofi Ki Hajar Dewantara untuk selalu menuntun murid mencapai kebahagiaan dan keselamatan hidup berdasarkan kodrat alam dan kodrat jaman. Keputusan yang diambil seorang guru dapat memberikan kemanfaatan yang mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being) dan dapat dipertanggungjawabkan, maka harus dilakukan berdasarkan pada budaya positif sesuai visi misi sekolah. 

Budaya positif ini dikembangkan menggunakan alur seperti BAGJA dengan mengedepankan nilai-nilai kebajikan yang telah menjadi kesepakatan kelas dan disiplin positif dapat menciptakan kondisi lingkungan yang nyaman (well being).untuk menghantarkan murid memiliki karakter sebagaimana profil pelajar pancasila. Harapan ini pasti dibutuhkan komitmen dari semua pihak. 

Dalam pelaksanaannya tentu dibutuhkan semangat belajar, berkolaborasi dan berkomunikasi dengan baik sehingga dapat memutuskan keputusan yang berpihak pada murid. Pembelajaran yang berpihak kepada murid adalah pembelajaran yang dilakukan dengan berdiferensiasi proses, konten dan produk serta mengembangkan pembelajaran sosial emosional. Pembelajaran ini dapat memerdekakan murid sesuai dengan bakat, minat dan kompetensinya. Adanya permasalahan  dilema etika maupun bujukan moral hendaknya dapat diputuskan secara tepat melalui 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan serta pengujian agar keputusan yang diambil berpihak kepada murid dan meminimalisir menimbulkan permasalahan baru.

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Pemahaman saya terkait konsep pengambilan keputusan pada modul ini baik dilema etika maupun bujukan moral semakin mantap melalui tahapan MERDEKA. Peran pendamping, fasilitator dan instrulktur semakin menguatkan pemahaman saya.

Hal-hal yang menurut saya diluar dugaan bahwa ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya didasarkan pada pemikiran dan pertimbangan semata, namun sangat diperlukan adanya paradigma, prinsip, dan langkah-langkah pengujian pengambilan keputusan, agar keputusan yang diambil tepat sasaran dan bermanfaat untuk orang banyak. Disamping itu secara personal, dalam pengambilan keputusan diperlukan satu sikap keberanian dan tanggung jawab atas keputusan yang kita ambil.

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini saya pernah mengambil  keputusan dengan situasi dilema etika. Waktu itu saya memutuskan berdasarkan fakta-fakta yang ada dengan masukan dari berbagai pihak terkait dan memutuskan masalah dengan berbagai alternatif pemecahan. Dan setelah mengenal modul ini lebih sistematis karena ternyata ada 4 macam paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan serta pengujian keputusan yang diambil. Bedanya setelah mempelajari modul ini lebih memudahkan, meminimalisir terjadi kesalahan/timbulnya permasalahan baru serta dapat semakin mantab, tajam dan bermanfaat serta berpihak kepada kepentingan murid.  

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak yang saya rasakan setelah mempelajari konsep pada modul ini adalah pada diri saya sendiri semakin memahami konsep modul ini, kepada siswa berdampak semakin berpihak pada kebutuhan siswa, kepada guru karyawan semakin meningkat kinerjanya dan puas dalam menangani permasalahan juga kepada orang tua/masyarakat berdampak semakin percaya kepada lembaga sekolah. 

Perubahan yang terjadi adalah dalam pengambilan keputusan didasarkan pada 4 paradigma dilemma etika yaitu: individu lawan kelompok (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) yang semuanya didasari atas 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan serta melakukan pengujian. Perubahan pada cara yang saya lakukan berpengaruh pada kenyamanan semua pihak setelah keputusan dilakukan.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Materi pada modul 3.1 bagi saya sangat penting dan bermakna, karena seorang guru/kepala sekolah selalu dihadapkan pada permasalahan baik dilema etika maupun bujukan moral sehingga konsep modul ini penting untuk dierapkan dalam menuntun pemecahan masalah pada pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang tepat akan berdampak kepada iklim dan keberlangsungan sekolah menjadi tempat belajar yang kondusif, aman, nyaman dan mengembangkan potensi murid lebih maksimal. Modul ini juga semakin memberi manfaat kepada saya pribadi semakin matang, mantap, tajam dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran saya berharap semakin bermanfaat bagi murid, eman sejawat dan orang tua/masyarakat dengan keputusan yang kita ambil secara tepat.

Demikian hasil paparan koneksi antar materi Modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Seorang Pemimpin, semoga bermanfaat. Saya sangat berharap kepada para pembaca untuk dapat memberikan tanggapan, komentar dan masukan demi perbaikan tulisan ini.

Guru tergerak, bergerak dan menggerakan. Guru bergerak Indonesia maju.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Design Pembelajaran Jarak Jauh

Cara Aman Mengatasi Blendrang

Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid