Seleksi PPPK

 Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Sungguh...siapa yang tidak trenyuh melihat perjuangan saudara-saudara kita yang ikut seleksi PPPK? Di usia yang rata-rata sudah lebih dari separuh baya, rambut sudah beruban semua, kulit sudah keriput, beliau berusaha mengerjakan ulangan seperti anak sekolah. Hanya ingin keberadaan diakui ada dan setara dengan para guru lainnya. Usahanya tidak kurang, berbagai buku dipelajari dan berbagai pelatihan diikuti untuk menyamakan pengetahuan dengan anak-anaknya dan murid-muridnya yang baru lulus. Mungkinkah? 

Sebut saja Minah yang sudah 20 tahun mengajar di SD pinggiran pegunungan. Tiap bulan digaji Rp. 150.000,- Jangankan untuk mencukupi hidup sekedar membeli keperluan kebersihan diri saja tidak cukup. Semangatnya belajar sudah tak terhitung, tetapi saat ujian berlangsung ia terasa seperti masuk angin. Perut terasa mual dan badan serasa lemas. Mungkin karena memaksa menghafal berbagai teori pembelajaran sampai kurang tidur. Setelah mengerjakan setengah soal teknis tangannya seakan tidak dapat menggerakkan mouse. Ia hanya pasrah, disisa tenaganya diarahkan mouse tanpa membaca soalnya daan segera di akhiri. Dalam hatinya jangan sampai ia pingsan di tempat ujian. Ia teringat ibunya yang sudah tua dan tiga anaknya yang sekarang sudah yatim sedang menunggu kehadirannya dengan doa. Terlihatlah  hasil wawancara dan menegerial di atas passing grade, sedangkan teknik menunjuk angka 255 berarti kurang 65 menuju angka 325.  Dengan perasaan tidak menentu segera keluar dari ruangan dan segera sholat asar untuk selanjutnya pulang. 

Berbeda lagi dengan sebut saja Joko yang juga sudah 30 tahun mengajar. Untuk memegang mouse begitu kesulitan. Bahkan saat untuk ngeklik harus memanggil pengawas karena takut salah dan monitornya kurang terang beliau kebingungan samapai keringat bercucuran di ruang yang dingin.

bersambung..... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Design Pembelajaran Jarak Jauh

Cara Aman Mengatasi Blendrang

Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid