PBL ceris

Malam itu tanggal 15 Agustus saya ditugaskan oleh Pais melalui MGMP PAI mengikuti PBL Ceris. PBL Ceris adalah Pembelajaran Berbasis literasi tentang cerita Islam. Senang sebenarnya mengikuti kegiatan ini, namun untuk menulis fiksi seperti itu rasanya sulit bagi saya membayangkan apalagi untuk mewujudkannya. Namun setidaknya mendapat ilmu berharga dari para narasumber. 

Saya mencoba join melalui ID zoom yang dibagikan ternyata tidak bisa dan saya coba berulang kali dengan menggunakan laptop juga tetap tidak bisa. "iki paling mergo kowe ki gaptek yuu..." pikirku dalam hati. Sebenarnya aku ingin minta tolong temanku tapi kulihat semua sibuk dengan tugas masing-masing. Selain itu di sekolahku jarang menggunakan fasilitas zoom kecuali untuk kepentingan sosialisasi wali murid atau dengan melibatkan seluruh murid. Dalam rapat guru, staf dan pembelajaran kita pakai google meet, karena sekolah sudah punya akun sekolah dengan sch yang katanya penyimpanannya unlimited semua familiar pakai itu. Selanjutnya saya menghubungi teman sesama peserta, ternyata beliau juga kesulitan gabung dan setelah bisa katanya suaranya tidak jelas. Akhirnya kuputuskan mengikuti live streming dari narasi 7.  Pikirku..."Podho ae yuuu hasile, gambare ra ketok rapopo wong biasane yo kok silang kamerane mergo luweh bebas disambi ngemil opo dlosor dengan pakaian kebesaran ibu-ibu daster, mbukak rahasia perusahaan.... Ora usah angkat tangan paling yo ra takon, lek urgen chat wae malah iso otw muleh barang. 

Kegiatan ini dibuka oleh Bapak Plt Kemenag Kanwil Jawa Timur Bapak Dr. H. Nurul Huda, M. Pd.I. Dilanjutkan dengan paparan nara sumber Bapak Maimon, M.Ag Kasi PAIS Kanwil Jawa Timur dan Bapak Dr. H. Zuhri, S.Ag, M.Si Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Kediri. Pada sesi pertama saya belum bisa mengikuti dengan baik karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sekolah, rapat evaluasi dan tindak lanjut pembelajaran dua minggu berjalan. Baru pada sesi kedua mulai khusuk mengikuti berupa paparan buku fiksi berupa novel. Termasuk disampaikan pengalaman penulis dalam menyelesaikan buku itu. Kalau menurut saya ini seperti bedah buku. Sesi ini  judul bukunya adalah Indahnya Pandemi Covid-19, Di Ujung penantian dan Yang Menuntunku ke Surga.

Di Sesi ketiga saya tidak mengikuti karena sedang otw pulang lanjut mampir belanja untuk mengirim paket anak di pondok sampek mbriyuuut, beginilah mbok-mbok rempong. Baru pada sesi keempat setelah sholat magrib saya mengikutinya lagi,  itupun setelah menyiapkan makan dan menemani berbuka suami dan sholat isya'. Setelah shoalt Isya' ini mulailah khusuk mengikuti sambil kadang ngantuk sebelum akhirnya tragedi terjadi. "mati lampu buuuk..." kata mbak Ilma anak keduaku yang sudah 3 hari dapat pulang dari pondok. "Iyo nduuk.. ibuk ra iso nguripi genset....sampean iso opo ora?" jawabku, dan ternyata kami para perempuan sepakat  tidak berani dan tidak bisa menghidupkan genset. Dengan keremangan cahaya lilin saya melanjutkan mengikuti pelatihan ini dengan paket data yang kebetulan juga tinggal sedikit qoutanya.

bersambung...

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Design Pembelajaran Jarak Jauh

Cara Aman Mengatasi Blendrang

Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid