Kenakalan Anak
"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh...Bu....mohon saya tidak menjadi wali dari Jahil (nama samaran). Ia sudah mengolok-olok (misuhi) di media sosial. Saya juga ingin tidak mengajar anak itu. Hati saya terasa sakit, sebagai orang tua diolok-olok seperti itu. Orang setua saya, masak dilokne bocah baru seminggu masuk sekolah ini dan seperti itu kalimatnya. Ia sudah seperti bukan anak-anak lagi. Saya sungguh schok dan diluar nalar sehat, anak kok bisa seperti itu. Ini kalimat yang ditulis dan foto profil anaknya sudah saya screenshoot. "Oh... ini ternyata ... HP yang sedari tadi berdering. Ternyata telah terjadi tragedi dalam proses pembelajaran daring dengan siswa baru."
Sebagai pribadi tentu sangat menyadari posisi dan perasaan guru yang dipisuhi muridnya apalagi murid baru. Terkejut, sakit hati bercampur marah jadi satu ramuan. Dan sebagai manusia biasa tentu rasa sakit itu sangat wajar terjadi bagi siapapun. Kasus ini bisa dikatakan perilaku anak ini keterlaluan sampai guru merasa nelongso. Terlebih lagi jika guru jarang menangani siswa bermasalah, nakal, tidak punya unggah-ungguh, rajin melanggar norma, berani kepada guru bahkan mengarah ke kriminal.
Mengajar dan mendidik siswa di masa pandemi memang tidak mudah. Guru tidak bisa bertemu langsung dengan siswa tentu kurang maksimal untuk mengetahui dan memahami karakteristik siswa tersebut, begitu juga sebaliknya siswa kurang memahami masing-masing guru yang mengajar. Adakalanya tulisan yang bunyinya sama ditulis di media sosial, bisa berbeda makna ketika dilafalkan langsung. Belum lagi adanya tuntutan sekolah untuk menguasai aplikasi pembelajaran dan penilaian untuk pembelajaran jarak jauh. Dan ketika mulai menguasai google meet atau zoom dengan persiapan yang luar biasa, ternyata respon siswa rendah. Tidak semua siswa ikut dengan berbagai alasan yang sulit diterima akal sehat.
Namun itulah anak atau disebut bocah "awake sak kebo utek e rung pecah". Di satu sisi banyak anak yang dewasa ini belajar dan bermedia sosial tanpa pendampingan orang tua. Bahkan orang tua seakan tidak ada waktu lagi untuk anak. Orang tua sibuk kerja, urusan dinas dan sebagainya. Di usia SMP, siswa waktunya mencari jati diri. Ia butuh teman untuk memperhatikan, curhat dan berbagi. Nah, ketika tidak ada tempat di rumah tentu ia akan mencari tempat dimana ia bisa nyaman baik diluar rumah atau bisa di media sosial. Padahal media sosial adalah media tanpa batas dan rasa ingin tahu anak sangatlah tinggi. Jika tidak ada kontrol dari orang tua, banyak peristiwa tragis yang akhirnya harus dialami siswa.
Seperti halnya kasus anak di atas, sebagai guru tidak mungkin serta merta langsung mengeluarkan anak tanpa adanya proses. Atau guru langsung tidak mau mengajar bahkan menjustice anak itu sikapnya sangat jelek dan layak untuk tidak naik kelas. Sebagai guru adakalanya harus melepaskan diri sebagai orang tua, adakalanya kita seakan teman mereka sehingga dalam berproses mengajar dan membimbing tidak lepas dari tindakan kurang sopan dan kenakalan siswa. Namun hal ini juga bukan berarti anak ini dibiarkan saja, ia harus mendapat pendidikan bahkan hukuman. Hukuman yang diterapkan tetaplah dalam kerangka mendidik dan membimbing anak itu menjadi lebih baik.
Sekolah harus melibatkan orang tua/ wali untuk menagani permasalahan ini dengan baik. kerjasama seperti ini dapat menghindari kesalahpahaman antara orang tua dan sekolah tetapi juga bentuk kerja sama. Guru bukan manusia sempurna tapi memiliki keterbatasan kesabaran dan sebagainya. Namun sebagai guru adakalanya harus melepaskan rasa itu demi tujuan mulia. Guru adalah warosyatul anbiya'. Sebagai pewaris nabi tentu guru itu diuji dengan berbagai hal termasuk kenakalan siswa. Tujuan yang baik tidak selalu diterima anak baik, adakalanya mendapat perlakuan sebaliknya. Tetap semangatlah para guru di masa pandemi...semoga bermanfaat baik, Aamiin.
Komentar
Posting Komentar