Pembiasaan Pendidikan Karakter (Ngaji Bareng Subuh) - 1
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan ruang seluas-luasnya kepada guru untuk melakukan proses pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik. Hal ini tentu saja menyangkut akses pembelajaran daring, sarpras, sosial ekonomi dan kemampuan guru maupun siswa. Namun hal ini bukan berarti guru diam ditempat dan nyaman dengan keadaan yang ada. Penguatan pendidikan karakter pada masa pandemi merupakan hal yang ditekankan pelaksanaannya dalam proses pembelajaran.
Kebijakan penguatan pendidikan karakter yang telah dikeluarkan oleh Kemendikbud merupakan hal yang perlu kita rencanakan dan wujudkan. Seorang guru tidak boleh selalu berbicara tentang keterbatasan dan hambatan, namun juga berupaya semaksimal mungkin untuk menemukan peluang dan solusi dari setiap hambatan, keterbatasan dan kesulitan. Ia harus selalu berupaya, mencoba untuk menemukan model, metode ataupun strategi yang tepat. Tepat disini ditinjau dari kebermanfaatan, keefektifannya dan juga efisien.
Salah satu strategi kebijakan ini tertuang dalam habituasi yaitu dengan diajarkan, dibiasakan, dilatih konsisten sehingga akan menjadi kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter, dan karakter akan menjadi budaya. Strategi ini akan berjalan baik manakala terjadi sinergi dan kolaborasi yang baik mulai dari rumah, sekolah dan masyarakat. Ibarat roda manakala setiap bagian merasa bertanggung jawab maka semuanya akan saling mengisi, melengkapi dan menyempurnakan. Namun jika ada salah satu roda tersebut tidak berfungsi yang terjadi adalah fungsi roda lain akan berat tanggungannya atau bahkan dapat membebani.
Selama masa pandemi ini semua pihak harus menyadari perannya. Bagi sekolah, semua pendidik dan tenaga kependidikan harus keluar dari zona nyaman untuk berinovasi menciptakan kreatifitas, melakukan adaptasi dengan teknologi serta menyadari pentingnya penguasaan teknologi dalam mendukung pembelajaran yang dilakukan. Kerja keras guru untuk selalu belajar adalah upaya untuk menghadirkan sosok guru yang tidak hanya dirindukan dan dinantikan siswanya. Namun hal yang jauh lebih penting adalah manakala dalam pembelajaran siswa merasa tertantang untuk menjelajahi ilmu pengetahuan, termotivasi untuk menaklukkan lembah dan pengunungan dan akhirnya dapat meraih kemenangan di puncak harapan.
Karakter seperti ini tidak akan tercipta dengan serta merta namun peran guru dalam menyiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi proses pembelajaran dengan inovasi dan kreatifitas sangat diperlukan. Meskipun siswa sudah bersama orang tua namun pendidikan karakter di masa learn from home (belajar dari
rumah) ini harus tetap dikawal dan diawasi oleh guru. Guru memang tidak bertatap muka secara langsung, hal ini bukan berarti proses penanaman pembiasaan ini berhenti.
Begitu juga dalam pembelajaran PAI karakter masuk di dalam KD yang harus dilengkapi dengan instrumen. ini berbeda dengan mata pelajaran yang lain yang tidak tertuang dalam KD. Berangkat dari sini guru agama terus berupaya mengembangkan strategi, model dan metode sehingga pembiasaan sikap ini dapat tercapai. Dalam Pembeajaran Al-qur'an misalnya banyak siswa yang belum kompeten bahkan ada yang tetap tidak bisa. Setelah kita evaluasi memang tidak didukung oleh peran orang tua, hal ini tentu tidak mudah dalam masa pandemi. Berbeda dengan saat luring anak langsung bisa kita ajak untuk belajar selepas pulang sekolah. Sebagai upaya nya dikembangkan ngaji bareng subuh. wallohu a'lam (Bersambung)
Komentar
Posting Komentar