Mengejar Tugas Daring 3

Aku sudah tidak ingat hari ini sudah sore ke berapa berselancar mengejar tugas daring. Kepala rasanya semakin berat, pantat seperti tidak ada rasa dan badan seperti terbang. Saat ini aku sudah kehilangan  idealisme prestasi, yang ada tinggallah mencari pembenaran dan alasan menulis angka. Rangkuman dan tanya jawab lesan adalah jurus terakhir dan tidak mungkin kuturunkan lagi greatnya. Di posisi ini tidak ada 10 siswa ku yang luar biasa tetapi energiku melebihi mengawal 200 siswaku yang lain. 

Dan sore ini adalah akhir dari eksekusi nilai sebagaimana yang disampaikan kurikulum. "Bapak Ibu mohon segera mengambil keputusan untuk eksekusi nilai kepada anak-anak yang luar biasa. Namun semua keputusan harus berbasisi proses dan data apapun itu. Kami tahu pengorbanan bapak/ibu luar biasa, berdarah-darah untuk mencapai standar mutu yang sudah kita sepakati. Ucapan terima kasih tak terhingga dan semoga keikhlasan penjenengan menjadi amal kebaikan yang akan terbalas di dunia sampai akherat kelak."  

dalam diam aku teringat latar belakang yang sangat beragam, bayangnya hadir silih berganti di depan mata. Ada yang dengan keadaan yang memprihatinkan, ada yang sambil menangis kesulitan, ada yang tiduran main hp, ada yang sedang syik di cafe, ada yang bilang "bodo amat', ada yang tengah membantu orang tua, ada yang sedang berjuang jualan online, ada yang ikut jualan di warung tetangga. Kutengadahkan kepala melihat langit-langit rumah berwarna putih dengan ornamen minimalis, disitu muncul wajah orang tua yang sedang marah kepada anaknya, ada yang menangis karena tidak sanggup membimbingnya,  ada yang bekerja keras untuk dapat makan dan bertahan hidup, ada yang di warung kopi bersenda gurau bahkan ada yang rajin dan sibuk menonton drakor, bermedia sosial dan entah banyak lagi. 

Beberapa nama tutor kelas saya hubungi untuk membantu dan anaknya saya chat, telphone dan berbagai cara, begitu juga orang tuannya dan sekali lagi guru BK. Tidak ada pergerakan sama, dan seepii.  Sampai akhirnya satu chat muncul, maaf buu kurang sedikit dan segera saya kirim. Al-hamdulillaah....seakan menjadi vitamin di tengah kelesuan. Segera keberi balasan dengan edmoji senyum dan cinta. setelah sholat isyak kulihat lagi hp dengan harapan. Satu chat masuk mengatakan sudah mengirim semua di GC....Alhamdulillah.... Sampai jam 10 masih ada 6 anak yang tiada respon. Kudengar ada chat masuk segera kukejar dan ternyata nomor kurikulum, Astagfirulloh...Mohon segera dikirim ditunggu operator sekarang. 

Tepat jam 23.38 terkirim sudah semua dengan penangguhan 6 anak, maafkan ibu sampai disini keterbatasanku. Dan ini berarti tugasku di semester genap masih ada 6 anak luar biasa disamping tugas sebagaimana biasanya.   

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Design Pembelajaran Jarak Jauh

Cara Aman Mengatasi Blendrang

Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid