Lost Contact dalam PJJ

Fenomena guru kehilangan siswa dalam pembelajaran daring terjadi di sebagian besar sekolah. Utamanya sekolah yang pendaftaran siswanya menggunakan sistem zonasi. Sistem zonasi menampung siswa dari semua latar belakang sosial wali murid dan dari keberagaman tingkat kompetensi siswa. Ibaratnya seperti membeli kucing dalam karung. Pembeli sama sekali tidak bisa memilih dan memilah kucing dari segi apapun. Apa adanya dalam karung itu harus terbeli. Begitu juga dengan siswa zonasi, apapun adanya siswa harus diterima. 

Keberagaman kompetensi dan status sosial orang tua ini menyebabkan semua sekolah menghadapi permasalahan yang hampir sama. Dalam pembelajaran daring terjadi berbagai permasalahan termasuk guru yang kehilangan siswa. Siswa tidak masuk pada minggu pertama belum betul-betul terdeteksi karena mungkin terkendala masalah koneksi, penyesuaian dengan aplikasi, perubahan di kelas baru bahkan sampai pada permasalahan sarana dan aplikasi. Memasuki pertemuan minggu kedua dan seterusnya guru mulai gelisah dengan adanya beberapa siswa yang lost connect dengan guru maupun sekolah. 

Penanganan terhadap siswa yang lost connect ini tidak mudah terlebih di awal semester genap. Pada awal semester ini tren terhadap guru dan siswa yang terpapar covid-19 mengalami peningkatan. Bahkan beberapa diantaranya sudah dipanggil Alloh Swt. Hal ini mengakibatkan Pemerintah Daerah membuat himbauan kepada guru untuk tidak piket, ceklok dan pertemuan dengan tatap muka termasuk menghadirkan wali murid, siswa dan siapapun ke sekolah. Sekolah juga dilarang mengadakan kunjungan/ home visit ke rumah siswa. Kesehatan dan keselamatan pendidik, tenaga kependidikan dan siswa adalah prioritas utama. Beberapa kali sebelumnya rapat dan koordinasi guru yang sudah dilakukan dengan tatap muka harus kembali dengan google meet atau zoom meeting. Urusan yang sangat urgen dan memaksa guru harus hadir di sekolah dilakukan dengan terjadwal ketat selama 1 jam hanya 10 orang guru. 

Semua pihak mengandalkan komunikasi secara virtual. Mengajar virtual, menasehati virtual, bahkan marahpun juga virtual. Bagi yang mengajar di kelas 8 atau 9 untuk tingkat SMP ini masih dapat segera teratasi. Siswa sudah mengenal gurunya secara langsung dan sudah bertemu teman-temannya dalam satu kelas atau kelas lainnya. Namun bagi yang mengajar kelas 7 ini jauh lebih rumit. Mulai PPDB pelaksanaannya sudah virtual, guru dan siwa sama sekali belum pernah bertemu secara langsung.  Pengenalan terhadap karakter masing-masing siswa belum dipahami sepenuhnya guru termasuk latar belakang siswa dan orang tua. Ini mengakibatkan ketika ada kendala lost connect dengan siswa pelacakannya jauh lebih sulit.

Sekolah kami memang sudah tidak mengalami kendala teknis terkait sarana dan akses. Siswa kurang mampu mendapat pinjaman tablet dari sekolah dan paket kuota dari dana BOS. Namun ini bukan berarti sudah tidak ada lagi persoalan. Persoalan yang dihadapi sekarang adalah motivasi belajar dan kemampuan orang tua di rumah mengkondisikan belajar siswa.  Dari 1.315 siswa ada 80 % yang keaktifan belajarnya baik dan sangat baik, 15 %  keaktifannya cukup dan yang 5% ini kurang aktif. Dari sini tugas sekolah dan guru menjaga keaktifan level 1, meningkatkan yang level 2 dan memberi perlakuan khusus yang level 3.

Nah sekarang bagaimana memberi perlakuan yang level 3 ....(bersambung) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Design Pembelajaran Jarak Jauh

Cara Aman Mengatasi Blendrang

Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid