Menyiapkan Tugas Daring
Selama masa pembelajaran daring, seringkali kita mendengar obrolan sambung rasa para orang tua dalam mendampingi belajar anak. Ada keluhan, ada umpatan, bahkan caci maki. Namun ada juga nada doa dan rasa syukur telah diberi kesempatan dapat mendampingi dan lebih dekat dengan putranya. Segala warna manusia ada dengan segala rasa yang menyelimutinya. Termasuk pandangan masyarakat terhadap guru dalam pembelajaran daring.
Salah satu yang pernah saya dengar seperti ini, " aku jan pusing ndampingi bocah belajar lha piye malih mbok e sing sekolah, nggarap lek ndak direwangi yo pilih dolanan. Ora nggarap tugas malah dolanan n mbukak liyane gek diomongi ra kenek. Penak gurune sing di bayar neng ngomah, n mek ngiram-ngirim tugas". Ada beberapa yang dapat saya simpulkan dari keluh kesah orang tua yaitu, Kesatu, mendampingi anak belajar adalah beban karena biasanya diserahkan guru secara penuh. Kedua, Kesulitan orang tua belajar berbagai hal untuk bisa membantu tugas anak-anak. Ketiga, Anak malas belajar dan cenderung menggunakan HP untuk mainan. Keempat, Menganggap guru menjadi lebih enak dengan pembelajaran daring.
Dari sini dapat kita analisis bahwa masyarakat menganggap tugas guru dalam pembelajaran daring itu mudah. Dan pemerintah memudahkan guru dengan daring, ia mengamati guru yang digaji negara tapi sering dirumah. pendapat masyarakat ini tidak salah. Memang secara kasat mata orang tua sering melihat guru di rumah dan bahkan pada jam pelajaran pagi ada yang belanja, bersih-bersih rumah, joging, jual beli dan bahkan bekerja lain. Jadilah persepsi masyarakat bahwa guru tidak bekerja dengan maksimal. Benarkah begitu? Kiranya tidaklah dapat membenarkan atau menyalahkan tanpa melihat fakta yang ada. Mungkin sebagian kecil ada yang seperti disampaikan sebagian masyarakat tetapi selebihnya tidak begitu.
Sebut saja bu Eka, waktu awal pandemi covid beliau sudah masuk MPP (masa persiapan Pensiun) atau kurang lebihnya 8 bulan lagi sudah purna. Sebelum covid beliau nyaris tidak pernah pegang komputer, bahkan HP pun sekedar bisa telphon, sms dan chating WA. Pada saat sekolah menyampaikan bahwa pembelajaran adalah daring dengan menggunakan kelas google classroom (GC) beliau tidak punya gambaran apa-apa tentang pembelajaran tersebut. Ketika sekolah mengadakan workshop pembelajaran berbasis beliau tambah pusing. Saat beliau diminta membawa laptop ke sekolah, saat memegang mouse tangannya gemetaran dan keringatnya bercucuran di ruang ber AC. Kebetulan guru sesama matpel sangat care dengan kesulitan rekannya. Meskipun belum mahir tetapi semangat berbagi nya luar biasa. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan mengawali membuatkan akun dan kelas serta mengenalkan beberapa fitur yang sederhana. Pertemuan berikutnya adalah mengulang materi kemarin dan menambahkan dengan bagaimana mendapatkan materi, soal dari browsing atau yang lain dan menyematkan ke dalam tugas siswa yang itu memerlukan hampir 10 pertemuan. Namun semangatnya membara baik yang membimbing maupun yang belajar, bahkan saat beliau sudah dapat memegang mouse dengan nyaman aura kebahagiaan terpancar dari mereka. Sedikit demi sedikit setiap hari dilakukan sampai akhirnya berani menyiapkan pembelajaran tanpa pendampingan meskipun tidak jarang jika macet di tengah jalan dan harus telephon sahabatnya.
Berbeda lagi dengan sebut saja bu Rina beliau sudah bisa mengoperasikan komputer meskipun belum lancar, apalagi kalau kaca matanya ketinggalan pasti macet dan harus pulang dulu. Beliau 2 tahun lagi juga purna, namun semangatnya tidak kalah dengan bu Eka. Kecerdasan yang beliau miliki mempercepat proses belajarnya meskipun seringkali harus calling sesama temannya.
Hal ini tak ubahnya yang dialami bu Ningsih yang semangat dan kecepatan kerjanya luar biasa, namun tetap konvensional. Dalam ruangan staf yang diisi 12 orang beliau termasuk yang belum banyak memanfaatkan IT. Bahkan saat mau dipasang komputer de mejanya sempat menolak, dengan bahasa halus akan menggunakan laptopnya sendiri. Saat semua teman di ruang staf berlari kesana kemari untuk saling berbagi dan mencari ilmu untuk dapat diimabskan kepada guru-guru lain beliau belum punya gambaran tentang GC. Meskipun tidak ikut grumpul sharing ilmu, selalu saja beliau dapat buahnya. Ketika ada yang mempraktikkan bagaimana GC, beliau minta tolong kanan kiri untuk buat akun, kelas sampai bagaimana meluncurkan atau menjadwakan tugas. Saat sampingnya google doc beliau juga minta di setingkan bisa google doc. Saat ada yang memulai dengan google meet beliau juga minta bisa google meet. Bahkan saat quizizz beliau juga minta bisa quizizz. Begitulah meskipun kadang tanya kanan kiri tapi akhirnya semua bisa dilakukan.
Beda lagi denga Pak Anto yang luar biasa semangat bahkan saking semangatnya sampek bablas. Tapi akhirnya hampir semua dapat memanage kelas virtualnya. Banyak kekurangan memang tapi semua itu dapat teratasi dengan semangat, kerja keras dan kolaborasi dengan Tim. Mengapa demikian? Yang pasti namanya ketrampilan harus setiap hari di pegang, dilatih dan dicoba sehingga membentuk kebiasaan dan ketrampilan itu.
Seperti beliau tidak membutuhkan nara sumber yang ilmunya mumpuni karena justru akan semakin bingung dengan penjelasannya. Apalagi jika pakai istilah yang benar melafalkan justru ndak faham. Yang beliau butuhkan itu teman pendamping tempat sewaktu-waktu bertanya atau menyetujui yang ia putuskan atau lakukan. Narasumber muda rata-rata tidak telaten dan mengukurnya dengan kemampuan yang dimiliki. Sedangkan para guru manula tidak mungkin mampu mengimbangi. Akhirnya yang muda merasa ndak telaten dan yang tua merasa keconthalan. Sebagai ilustrasi adalah orangtua dengan keluhan stroke yang latihan jalan setiap pagi. Ia tidak membutuhkan orang yang gagah perkasa saat jalan-jaalan, ketikan ada sesuatu langsung dapat digendhong sampai rumah. Tapi yang lebih dibutuhkan adalah pendamping yang ramah, sabar mengikuti kemana ia berjalan. Sekali waktu sambil diajak curhar, bercanda dan sebagainya.
Bersambung....
Komentar
Posting Komentar