Ternyata dipojok kota ini ada beberapa dari siswaku yang perlu perhatian serius. Salah sasatunya katakan namanya Tono, siswa berperawakan kurus dan sering terlambat masuk sekolah. Ia tergolong anak yang rajin tetapi kelihatannya agak minder. Pakaiannya sangat sederhana, tidak kelihatan baru meskipun masih siswa baru, begitu juga sepatunya ada beberapa bagian yang sudah robek. Anak ini dipantau melalui program 6S (Senyum, Salam, Sapa, Salim, Sopan dan Santun) di pagi hari. 

"Lee kamu kelas berapa kok bajumu belum ada identitas" sapa guru piket, dan anak itu menjawab "kelas 7 B bu". "Rumahmu mana kok sudah dua hari terlambat masuk sekolah". "Rumah saya Tamanan Bu...jawabnya, " Tamanan mana dengan perempatan lampu merah Tamanan, lanjut Bu Har sebagai Koordinator BK.  Ke Barat masuk gang ke utara setelah itu belok lagi, belok lagi. Saya terlambat pagi tadi disuruh tetangga membelikan beras ke pasar". Tono menunduk dan tampak matanya sembab tapi ia tetap tegar menjawab semua pertanyaan guru. Wali Kelasmu bu Tini Yaa nak...lanjut bu Har sambil menoleh kepada wali kelasnya yang tersenyum ramah. Iya buu...jawabnya. "Kamu kan tahu tahu semua aturan di sekolah ini begitu juga dengan orang tuamu." Kok ibumu menyuruh sampai kamu terlambat?" tanya bu Har berikutnya.

Selanjutnya Tono menceritakan bahwa ia belanja jika disuruh tetangga dan sewaktu-waktu karena berharap imbalan uang Rp. 5.000,- yang sangat berharga menurut dia. Bapaknya sakit Stroke, dan ibunya adalah ibu tiri yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga. Seringkali pagi hari belum ada makanan karena ibunya juga masih bekerja pada orang yang menyuruhnya.  Bu Tini selaku wali kelas juga ikut menjelaskan beberapa hari lalu Dimas pingsan dan ternyata ia belum makan sejak sore hari. Setelah dirasa cukup bu Har mengakhiri pembicaraan, Tono disuruh masuk kelas dengan pesan nanti pulang sekolah supaya mengambil pemberitahuan home visit.  Besok ibu wali kelas dan BK diminta home visit ke rumah Tono

Pada siang hari setelah home visit justru Bapak/Ibu bercerita dengan antusias dan mata berkaca-kaca. Ternyata kehidupan anak tidak semuanya seperti yang dibayangkan. Mereka hidup cukup dan normal atau kalau kekurangan seperti layaknya kanan kiri pada umumnya. Tapi kasus yang baru ditangani bapak/ibu guru ini betul-betul menjadi pelajaran bagi semua.

Komentar

  1. Perhatian dari guru dan orang tua sangat penting artinya bagi siswa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Design Pembelajaran Jarak Jauh

Cara Aman Mengatasi Blendrang

Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid