Dampak Zonasi

Sebelum ada program zonasi, anak-anak yang belajar di sekolah ini tergolong lebih homogin. Ini dilihat dari kemampuan siswa, karakteristik lingkungan sosial maupun latar belakang sosial ekonomi orang tua. Kalau toh ada yang perlu penanganan serius jumlahnya tidaklah banyak dalam tiap kelasnya atau bahkan kadang tidak ada. Dari kondisi tersebut, sekolah bisa fokus untuk pengembangan prestasi akademik dan non akademik. 

Inovasi sekolah lebih pada bagaimana anak mampu mengembangkan dirinya secara optimal dan mengikuti berbagai event sampai tingkat Internasional. mengingat dukungan penuh orang tua terhadap pengembangan prestasi putra-putrinya. Kita tidak heran jika orang tua merasa bangga jika putra - putrinya dapat belajar di sekolah ini. Bahkan seluruh warga sekolah ini juga merasakan hal yang sama. Dari sisi akademik setiap UN dapat tetap mempertahankan rerata nilai tertinggi bahkan memborong 10 besar perolehan nilai tingkat Kabupaten. Di tahun terakhir UN salah satu siswa dapat mencapai peringkat 1 provinsi dan 36 siswa masuk 10 besar Kabupaten. 

Sungguh kita bersyukur kepada Alloh Swt dan berterimaksih kepada eksekutor-eksekutor jitu kita dalam mengolah ramuan masakan dengan menu istimewa sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa. Seluruh bagian bahu-membahu untuk "gool" yang sama, termasuk dukungan penuh orang tua. Salah satu kunci yang lain adalah koordinasi dan kerjasama untuk menghantarkan mereka. Dan ketika ada permasalahan sekecil apapun kita semua bergandengan tangan dan segera mengatasinya. 

Kondisi ini tentu berbeda dengan sekarang ketika siswa sekolah ini ada yang 70%, 90% dan 50% dari program zonasi. Ditambah lagi kebijakan kementrian yang berubah dari UNBK menjadi AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) dan tahun ini dengan istilah UBKD ( Ujian Berbasis Komputer Daring). Belum lagi dengan adanya covid-19 ini, tentu beberapa kompetensi belum maksiaml disampaiakan. Dari sini kita mengahadapi beberapa permasalahan dari  (1). heteroginnya kemampuan dan karakter siswa; (2). Kompetensi guru dalam menggunakan aplikasi pembelajaran maupun menyajikan materi; (3). Kondisi sosial ekonomi orang tua yang lebih heterogin; (4). program ujian yang baru dari UNBK ke UBKD (AKM). 

Dari permasalahan ini, sekolah wajib hukumnya mengubah strategi menghadapinya. Ini dilakukan dengan memberikan treatment kepada masing-masing sesuai dengan porsinya. Dan memaksimalkan yang semestinya bisa dilakukan dengan itupun tetap  mengacu pada visi, misi dan tujuan sekolah. Beberapa cara sekolah menyelesaikan adalah...(bersambung)...

Wallohu a'lam...







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Design Pembelajaran Jarak Jauh

Cara Aman Mengatasi Blendrang

Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid