Tipe Guru dalam Pembelajaran Daring
Di awal pandemi covid 19, seakan dunia ini akan kiamat. Orang hanya fokus membicarakan covid, banyaknya korban berjatuhan dan berita kengerian lainnya. Banyak orang yang menjadi tidak fokus dalam bekerja karena selalu dihantui perasaan dan kehati-hatian yang berlebihan. Begitu juga di dunia pendidikan, siswa belajar dari rumah, guru mengajar dari rumah, pegawai bekerja juga dari rumah.
Bagi institusi pendidikan utamanya guru dihadapkan dengan berbagai persoalan baik terkait protokol kesehatan maupun perubahan proses pembelajaran yang harus berbasis IT dengan berbagai aplikasi yang dianggap baru. Dengan kondisi seperti itu semua pekerjaan nyaris tertunda. Banyak diantaranya menjadi tergagap-gagap dengan apa yang harus dikerjakan. Ada yang rajin mengikuti webinar, ada yang belajar bersama kelompok, ada yang tidak mau belajar, ada juga yang waktunya dihabiskan masak-memasak, bersih-bersi, momong bahkan jualan.
Itulah kondisi guru kita, bahkan ketika sekolah berupaya menghadirkan nara sumber untuk membuat kelas maya, membuat bahan ajar dan berbagai aplikasi tanggapannya pun beragam. Ada yang semangat mengikuti dengan sungguh-sungguh meskipun sampai rumah lupa lagi. Ada yang hanya absen saja dan setelah itu kabur dan ada juga yang tidak hadir sama sekali. Bahkan ketika ada tindak lanjut belajar bersama ada yang bersemangat berbagi dan saling tukar ilmu tapi ada juga yang tidak pernah mau belajar dan tetap tidak bisa.
Meskipun berulang kali dilaksanakan pembinaan, teguran dan lain sebagainya tapi ya tetap begitulah. Mungkin disinilah nilai religius dan sosial seseorang termasuk di dalamnya guru dapat di uji. Atau dalam bahasa lain kompetensi guru itu dapat dilihat ketika dalam pandemi seperti sekarang. Baik itu kompetensi profesional, pedagogik, sosial dan kepribadiannya. Dampaknya tentu pada pembelajaran, bagaimana ia melaksanakan prosesnya. Ada beberapa tipe guru dalam pembelajaran masa daring, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Guru yang mengajar
dengan semangat, produktif dan berusaha menambah pengetahuan terkait aplikasi
pembelajaran.
Ada
diantara guru-guru kita yang berjuang keras selalu mengikuti perkembangan
jaman. Termasuk di dalam masa pandemi, meski tertatih tatih ia terus berusaha
keras mempelajari berbagai aplikasi teknologi informasi agar dapat menyajikan
pembelajaran yang menarik. Ia tetap berupaya menarik perhatian siswa mengikuti
pelajaran yang disajikan. Ia selalu menjadikan mitra kerjanya untuk membantu
membuat aplikasi pembelajaran seperti power point, memberikan effect, materi,
mengambil video dari yutube dan bahkan memanfaatkan berbagai kelas maya. Ia
dengan aktif, semangat menyapa anak-anak untuk pembelajaran.
2. Guru yang mengajar dengan
aktif tapi tidak mau menambah pengetahuan aplikasi pembelajaran.
Diantaranya
ada guru yang aktif, semangat mengajar. Setiap hari selalu menyapa siswa untuk
pembelajaran, namun ia tidak aktif dan tidak berusaha menambah pengetahuan
hanya sebisanya. Yang setiap hari mengajar dengan WA, ia tetap mengajar dengan
WA. Tipe guru seperti ini tentu pembelajaran yang dilakukan menjadi monoton, siswa menjadi jenuh
dan tidak semangat.
3. Guru yang mengajar hanya
memberi dan menagih tugas.
Guru
semacam ini sebagaimana debt collector yang tugasnya memberikan tugas dan semangat menagihnya. Dalam pembelajaran seperti ini tidak ada interaksi antara siswa dan
guru. Ia mengukur kemampuan anak hanya dari tugas yang dikerjakan dan
dikumpulkan. Guru semacam ini biasanya juga memberikan tenggat waktu yang tegas
tugas harus dikumpulkan. Tipe seperti ini juga membuat siswa malas belajar dan hanya sekedar memenuhi tugas saja.
4. Guru yang mengajar
semampunya dan tidak mau usaha menambah pengetahuan aplikasi pembelajaran.
Bisa dibayangkan
di jaman pandemi seperti ini jika guru mengajar hanya semampunya dan tidak mau belajar. Ia akan mengajar dengan caranya sendiri, sekedarnya,
pokok absen, mengisi jurnal dan tanpa memikirkan bagaimana kondisi anak. Ia
tidak punya target maksimal dan bahkan minimalpun belum tentu dicapai.
5. Guru yang
memanfaatkan WFH untuk kegiatan diluar pembelajaran.
Beberapa guru ada juga yang memanfaatkan waktu WFH justru untuk hoby dan kepentingan pribadi. Ia tidak memikirkan siswa bagaimana harus belajar. Ini bisa dilihat yang mestinya mengajar malah bersepeda sampai tempat jauh. Ada yang dimanfaatkan lain seperti memasak di rumah, bersih-bersih dan mencuci. ada juga yang pergi kerumah cucu untuk momong dan kegiatan lainnya. Bahkan ada diantaranya yang dimanfaatkan untuk menambah penghasilan seperti jual beli atau biasa disebut “mblantik”. Tentu guru seperti ini bisa merugikan siswa, anak yang mestinya belajar menjadi malas sehingga di pagi hari waktunya belajar justru belum bangun, atau bangun absen setelah itu tidur lagi. Ini karena pembelajaran tidak memunculkan efek apapun terhadap siswa. Bahkan bantuan paket data justru dihabiskan untuk bermain.
Tipe guru-guru di atas yang kita saksikan ada dalam pembelajaran daring ini. Tentu saja ini berdampak signifikan siswa yang diajar guru penuh semangat dan yang sebaliknya. Karenanya peran atasan langsung, utamanya kepala sekolah sangat penting. Baik perannya sebagai supervisor, manager dan leader di lembaga tersebut. Hanya dengan sentuhan kreatifitas, inovasi dan terobosan yang jitu kompetensi guru dapat dimaksimalkan meskipun dalam masa pandemi.
Dan yang tak kalah penting adalah peran pengawas sekolah. Pengawas sekolah hendaknya selalu bersinergi dengan sekolah dan para guru untuk dapat memotret secara jelas kondisi pembelajaran yang dilakukan guru sekaligus memberikan solusi bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Wallohu a’lam
Semoga bisa menjadi guru yang produktif, aktif, dan kreatif...
BalasHapus