Kelas Unggulan
Kelas Unggulan pada sekolah negeri menjadi sebuah hal yang dilematis. Hal ini dikarenakan aturan terkait itu belum ada dengan jelas. Pengembangan dan peningkatan mutu untuk dikembangkan dengan inovasi sekolah, namun bentuknya seperti apa belum ada. Ini berbeda dengan program sekolah RSBI, Sekolah Rujukan dan Sekolah Model. Pengembangan sekolah lebih jelas dan inovatif. Namun perbaikan mutu dan inovasi ternyata tetap menjadi tuntutan.
Adanya program zonasi menyebabkan kondisi siswa sangat heterogen karakteristiknya. Baik terkait dengan perbedaan kecerdasan, style belajar, latar belakang, budaya dan kebiasaan. Hal ini tentu berdampak pada proses belajar di kelas. Meskipun heterogenitas ini ada yang menilai memberi pengaruh lebih baik bagi anak (Nurhayati Republika 8/7) namun dampak negatifnya juga banyak. Disampaikan bahwa kelas heterogen bisa meningkatkan rasa memahami, menghormati, toleransi yang dapat meningkatkan kemampuan sosial. Ini memang tidak salah, namun bagi guru dalam mengelola proses pembelajaran di kelas tentu tidak sesederhana itu. Bagaimanapun juga guru mempunyai tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran.
Adanya program kelas unggulan ini tentu jauh lebih memudahkan berbagai pihak dalam mengembangkan potensi siswa. Baik itu oleh orang tua maupun guru, karena lebih fokus kepada kemampuan anak. Berdasarkan pengalaman mengajar guru di dalam kelas, beragamnya latar belakang perbedaan kecerdasan dan style learning anak misalnya, itu sudah membuat guru mengalami kesulitan dalam mengoptimalkan potensi anak. Padahal kalau kita kaji lebih jauh lagi bahwa tujuan dari pada proses pendidikan sebagaimana tertuang dalam UUSPN tahun 2003 bahwa tujuan pembelajaran itu adalah untuk masing-masing individu anak, bukan keterwakilan anak. Ini artinya masing-masing anak harus bisa berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. Kalau dilihat dalam proses pembelajaran setiap guru adalah memfasilitasi anak untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Dari beberapa hal diatas maka pembentukan kelas unggulan ini semata-mata untuk tujuan pengembangan potensi anak.
Memang ada sebagian orang yang berpendapat bahwa kelas unggulan menyebabkan anak merasa lebih hebat dari kelas reguler. Hal ini tidak akan terjadi manakala sekolah juga menjadikan kelas yang lain juga unggulan di bidangnya misalnya seperti kelas seni, kelas olahraga, kelas literasi dan sebagainya. Anak tentu juga harus dipahamkan akan perbedaan kecerdasan pada kelas masing-masing dalam pembelajaran. Disamping itu sekolah dapat menyelenggarakan berbagai event perlombaan yang tidak hanya akademik, ESQ, motivasi dasebagainnya yang menjadikan anak menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan masing-masing, semua penting dan semua dikembangkan. dari sinilah anak akan memahami dan menghargai atas kelebihan masing-masing.
Dari pengalaman mengelola program unggulan kelas pendapat adanya diskriminasi dan pengkotak-kotakan anak tidak terjadi. Karena dengan adanya kelas unggulan tentu sekolah akan berupaya memperbaiki sistem supaya diskriminasi itu tidak terjadi. Bagi pendidik tentu menyadari bahwa setiap individu mempunyai keunikan masing-masing untuk dapat dikembangkan tidak hanya akademik tapi juga kegiatan ekstra dan pengembangan diri anak. Pada event pameran lukisan misalnya kita melihat justru bukan dari kelas unggulan yang luar biasa hebat. Begitu juga pada kegiatan pameran literasi karya siswa semua anak memiliki potensi luar biasa. Begitu juga pada acara pentas seni dan pagelaran budaya. Menurut kami apa yang dikhawatirkan mereka kadang terlalu berlebihan dan belum melihat kenyataan di lapangan. Kalau pendapat, asumsi selalu dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan saya kira tidak selalu tepat.
Begitu juga dalam kenyataan siswa yang lamban belajar itu jauh lebih banyak sehingga tentu guru jauh lebih fokus menangani anak yang lamban supaya tujuan pembelajaran minimal dapat tercapai. tentu hal ini akan menimbulkan kebosanan bagi anak yang cepat belajar sehingga potensinya tidak dapat dimaksimalkan. Kalau toh ia diberdayakan membantu peserta lainya itu boleh saja seperti tutorial sebaya. Namun hal ini tentu akan menghambat perkembangan anak dalam berselancar pengembangan potensinya. Justru dengan adanya kelas unggulan akademik inilah keadilan itu dapat terpenuhi. Hal ini karena bagi yang lamban akan optimalkan secara berulang-ulang dan bagi yang cepat akan dikembangkan secara maksimal sesuai dengan kebutuhan anak. dari sini kita memahami bahwa memang kebutuhan anak ini berbeda-beda. dengan demikian maka sekolah akan lebih mudah memberikan pelayanan terhadap kebutuhan siswa baik terkait menegemen maupun pelayanan lainnya.
Wallohu a'lam...
Semua anak seharusnya berhak mendapat pendidikan yang layak tanpa harus dibeda-bedakan
BalasHapus