Kebijakan BDR

Mengawali tahun ajaran baru setiap sekolah pasti memiliki strategi masing-masing. Strategi pembelajaran utamanya bahkan kebijakan untuk mengambil keputusan BDR. Keputusan ini tentu diambil dengan evaluasi dan analisis yang cermat. Bukan hanya karena tetangga sekolahnya begini maka saya ikut begini. Tetapi tiap sekolah tentu beupaya maksimal untuk dapat melaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Makna kata sebaik-baiknya ini adalah ia berusaha melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai aturan yang ada. Misalnya di Kemendikbud tetap mengacu pada Surat Edaran Kemendikbud No. 4 tahun 2020 dan SE no 15 Tahun 2020 tentang pedoman BDR pada masa covid-19. Termasuk Keputusan bersama Mendikbud, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan menteri Dalam Negeru tentang Panduan Penyelenggaraan pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 pada masa pandemi Covid-19.

Dengan adanya aturan tersebut sekolah berupaya mencari terobosan atau tetap melakukan berbagai inovasi. Tentu hal ini juga melihat kesiapan masing-masing. Baik kesiapan sekolah dalam hal ini guru dan sarpras dan juga kesiapan siswa termasuk orang tua siswa. Intinya proses pembelajaran tetap harus berlangsung, siswa harus tetap belajar dan guru harus selalu mengajar. 

Untuk ditingkat SMP pelaksanaan pembelajaran daring lebih lancar dalam pelaksanaannya. hal ini karena anak SMP sudah banyak yang sudah memiliki dan  terbiasa memanfaatkan teknologi berupa android, laptop dan sebagainya. Apabila ia mengalami kesulitan ia akan llangsung dapat berkomunikasi dengan teman-temannya dan bapak ibu guru. Dari hasil tanya jawab Waka Kurikulum dengan Pengawas pada hari Kamis kemarin di SMP Negeri Kabupaten Tulungagung semua sekolah melaksanakan pembelajaran daring dan ada sekolah yang melaksanakan daring dan luring. Rata-rata tingkat partisipasi siswa sudah di atas 80 % kecuali hanya beberapa sekolah yang di bawah itu. Sedangkan di sekolah Kecamatan dan di kota partisipasi siswa sudah diatas 90 %. 

Sedangkan kelas yang digunakan adalah google classroom, WhatsAap Group dan ada beberapa yang menggunakan microsoft 365 dan ada yang memadukan diantara keduanya misalnya GC dengan WAG.
dari sisi sarpras tentunya sesuai prosentase hampir dapat terpenuhi. Ada beberapa sekolah yang meminjamkan tablet sekolah, ada yang gurunya meminjamkan android dan bahkan ada sekolah yang guru-gurunya urunan  untuk membeli android. Sedangkan paket data bagi anak-anak yang kurang mampu utamanya ada yang di bantu sekolah melalui dana BOS.

Dari beberapa ada wacana pembuatan modul pembelajaran. Ini merupakan hal yang baik untuk ditindak lanjuti mengingat berbagai kendala yang muncul selama pembelajaran. Hanya permasalahannya tentu penyusun dan dana penyusunan. Di sekolah yang hanya tergantung pada dana BOS tentu berat untuk dapat merealisasikan namun bagi sekolah yang dapat dari sumber lain mungkin ini dapat diatasi.

Sedangkan kendala untuk kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran ini sangat tergantung pada kebijakan sekolah. Saya ambil contoh di SMPN 1 Tulungagung untuk mengantisipasi bagi bapak ibu guru yang terkendala penyiapan materi dan proses pembelajaran daring dengan mengadakan worksop penyususnan design pembelajaran. Tentu ini tidak cukup bagi mereka yang belum ramah maka ditindak lanjuti dengan kebijakan sekolah bahwa pembelajaran harus dilkasanakan dari sekolah bersama MGMPS Matpel masing-masing. Mereka semua tidak boleh egois bagi yang mampu dan tidak boleh malu bagi yang belum mampu. Merka harus berkolaborasi dalam menyiapkan pembelajaran , melaksanakan pembelajaran dan mengevaluasinya.

(Bersambung....)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Design Pembelajaran Jarak Jauh

Cara Aman Mengatasi Blendrang

Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid