PRASYARAT GURU DALAM PEMBELAJARAN DARING
Permulaan tahun ajaran baru ini banyak memunculkan berbagai sikap, reaksi dan stetement dari berbagai pihak. Ada yang mereaksi dengan keras untuk tidak melakukan tatap muka langsung. Alasan utamanya adalah kesehatan siswa dan guru lebih utama. Ada yang ingin segera masuk karena pembelajaran daring dinilai tidak efektif dan memunculkan berbagai persoalan. Ada juga yang biasa-biasa saja, tentu ini dengan berbagai alasan juga.
Pembelajaran daring jika dikelola dengan maksimal tidak mengurangi efektifitas dan produktivitas pembelajaran. Kuncinya adalah harus betul-betul disiapkan secara matang baik persiapan maupun dalam pelaksanaannya. Jika kemasannya tepat maka tujuan pembelajaran akan tercapai dan prosesnya tetap menarik dan bermakana. Siswa akan tetap mengerti konten pembelajaran dan tidak akan merasa bosan belajar di rumah.
Untuk mencapai itu semua guru memegang peran pertama dan utama. Hal ini karena pemegang kendali pembelajaran adalah guru. Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran harus berupaya dapat memfasilitasi proses belajar siswa supaya lebih efektif. Sebagai motivator guru berperan dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa sehingga pembelajaran berlangsung dengan interaktif, menarik, memotivasi dan menantang. Sedangkan sebagai mediator guru hendaknya dapat menjadi mediasi dari persoalan siswa terkait konten maupun proses pembelajaran. Begitu juga sebagai komunikator, guru mampu menjalin komunikasi dengan siswa dan berbagai pihak untuk tercapainya tujuan pembelajaran.
Ini semua mesti ada upaya maksimal guru, dan jika tidak maka bersiap-siaplah untuk diabaikan bahkan ditinggalkan siswa. Jangan-jangan bukan karena siswa yang malas dan tidak taat, tapi karena kita yang malas dan tidak kreatif. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran daring prasyarat guru setidaknya adalah:
- Kesiapan Perencanaan Pembelajaran. Guru harus benar-benar merancang sendiri perencanaan pembelajaran. Ia pasti faham betul dengan apa dan bagaimana menyampaikan pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari perencanaan yang di susun mulai dari melihat kalender pendidikan untuk menghitung waktu efektif pembelajaran yang selanjutntya dituangkan dalam program Tahunan (Prota) dan Program Semester (Prosem). Selanjutnya menyiapkan Kompetensi Dasar yang dituangkan dalam Prota dan Prosem. Prosem selanjutnya didistribusikan pada jam efektif sehingga tidak ada alasan seorang guru kelebihan waktu atau sebaliknya kehabisan waktu tanpa sebab yang benar. Kalau semua sudah siap baru merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Di RPP itulah guru menuangkah langkah-langkah pembelajaran dan penilaian.
- Penguasaan Teknologi. Prasayarat utama pembelajaran daring adalah menguasai pemanfaatan IT dalam proses pembelajaran dan penilaian. Setidaknya guru menguasai google drive sehingga bisa membuat kelas di google classroom, meyiapkan materi, ppt, video pembelajaran, absensi di GF dan quizizz misalnya. Dengan menguasai ini secara bertahap setidaknya guru sudah berupaya melakukan pembelajaran daring dengan sungguh-sungguh.
- Membangun komunikasi. Dalam pembelajaran daring guru dituntut untuk dapat membangun komunikasi yang baik. Apakah komunikasi dengan siswa dalam proses pembelajaran maupun dengan pihak lain misalnya sesama guru, sekolah dan orang tua. Dengan komunikasi yang lancar dan baik maka kesulitan pembelajaran akan teratasi. Disamping itu komunikasi akan meminimalkan terjadinya kesalah pahaman.
- Menyatuan persepsi dan konsentrasi Siswa. Penyatuan persepsi dan konsentrasi siswa dalam pembelajaran daring itu tidak mudah. Hal ini karena guru tidak langsung bertemu dan berada di tempat yang sama dengan murid. Guru juga tidak melihat langsung bagaimana muridnya saat pembelajaran berlangsung. Ini diperlukan teknik tersendiri sehingga diyakini betul bahwa apa yang diharapkan guru dalam pembelajaran sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada murid-muridnya.
- Pengembangan Literasi. Dalam pembelajaran daring guru hendaknya dapat membangun budaya literasi dengan benar. Guru dapat menjadi rujukan siswa berliterasi digital. Dan guru bisa mengarahkan siswa dalam pembelajaran dengan memanfaatkan IT secara benar untuk proses belajar. Pengembangan budaya literasi digital ini hendaknya menumbuh suburkan pengembangan literasi bagi siswa.
- Penguatan Pendidikan Karakter. Penumbuhan pendidikan karakter harus tetap dipacu melalui proses pembelajaran dan pesan-pesan guru. Siswa tetap memiliki karakter moral dan karakter kinerja yang baik. Kejujuran, ibadah dan akhlak tetap dapat terpantau oleh guru. Begitu juga karakter kenerja siswa dalam pembelajaran maupun diluar pembelajaran tetap baik. Guru dapat memanfaatkan instrumen atau mengefektifkan komunikasi dengan siswa, orang tua dan guru yang lain dalam penguatan pendidikan karakter.
Wallohu a'lam
***Tidak ada guru yang seketika lahir menjadi langsung profesional, namun profesional itu karena pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan@@@
Mantap Bu. Bermanfaat.
BalasHapusSemoga...
Hapus