Orang Dewasa/tua Cenderung Lambat dalam literasi Digital

Usia anak lebih cepat dalam memanfaatkan teknologi sedangkan orang dewasa termasuk seusia saya cenderung lebih lambat. Ini terlihat sekali saat mengikuti pelatihan design pembelajaran jarak jauh yang diselenggarakan Kanwil Kemenag Jatim. Kami berempat yang sudah tua memberanikan diri  hanya berbekal  jam terbang sebagai guru sudah lebih 20 tahun. Sedangkan seorang guru lagi masih sangat muda yang mengajar masih sekitar 2 tahun. Ia seumuran dengan anak sulung. Usia ini kelihatannya  hanya berpaut angka 0, tetapi ternyata masa tidak bisa dibohongi.  Hal ini sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: "Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian". 

Bahwa  ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi jaman dimana dan kapan kita hidup. Sesuatu yang hari ini istimewa,  pada 10 atau 20 tahun mendatang bisa jadi hal yang biasa-biasa saja. Sesuatu yang hari ini mustahil, bisa jadi pada 10 atau 20 tahun mendatang terjadi. Banyak contoh, tidak hanya di dunia pendidikan, bahkan pada bidang lain utamanya perekonomian tentu lebih banyak. Seberapa banyak sekarang yang berembel-embel online atau e- seperti e-learning, e-library dsb.

Gambaran ini sebagaimana yang terjadi pada saat pelatihan di atas. Untungnya saja semangat juang teman-teman luar biasa, saling mendukung dan berkolaborasi. Dengan andalan pengalaman menyusun rencana pembelajaran dan  penulis LKS selama beberapa tahun. Kalau para orang tua stress maka yang muda enjoy saja. Ia merasa sedang bermain sedangkan para orang tua merasa sedang bekerja. 

Peristiwa ini mengingatkan semasa masih kecil di usia Sekolah Dasar. Setiap hari bermain di sawah dari pematang menuju pematang yang lain untuk mencari ikan wader, bethik dan cethak. Waktu disaat air sungai masih mengalir jernih ke sawah-sawah. Waktu dimana masih banyak ikan di sawah. Waktu  sawah belum teracuni pestisida. Dan sampailah pada ingatan  saat sematahari tergelincir. Sabit dan keranjang  menghiasai langkah kecil menuju hutan atau sawah untuk mencari rumput. Saat itu tugas serasa lebih ringan karena selalu sambil bermain dan dikerjakan bersama-sama.

Jika kita tarik dengan benang lurus dengan kondisi anak-anak sekarang tentu jauh berbeda. Mereka sudah mengenal HP sejak kecil bahkan dengan berbagai permainan. karenanya anak-anak ini lebih ramah dan terampil dengan aplikasi pembelajaran. Anak-anak lebih cepat bisa karena bermain hp dan komputer adalah benar-benar bermain, dan bermain dengan enjoy. Anak-anak tidak begitu punya beban sekalipun alatnya rusak. Sedangkan orang tua saat bermain hp dan komputer ia merasa tidak bermain tapi bekerja. Namanya orang kerja tentu hati-hati supaya tidak salah. Bahkan mereka pun dihantui pikiran, jika salah  bagaimana? Jika rusak alatnya bagaimana? pikiran seperti itu ikut menyumbangkan kegagalan terampil cepat untuk  menguasai berbagai aplikasi pembelajaran. 

Komentar

  1. Semangat b hj... Semangatnya itu kebaikan tersendiri..

    BalasHapus
  2. Hah, sing penting duwee SIM,

    BalasHapus
  3. Meskpun demikian, harus mengikuti perkembangan. Semampunya.

    BalasHapus
  4. Tidak ada kata terlambat untuk belajar.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Design Pembelajaran Jarak Jauh

Cara Aman Mengatasi Blendrang

Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid