Latihan Menulis

Sebagai seorang praktisi pendidikan sebenarnya tidak asing dengan dunia literasi. Namun demikian untuk dapat menghasilkan karya seperti Pak Na’im tidaklah mudah. Semangat literasi ini sebenarnya tidak pernah pudar, hanya mungkin besarnya alasan menjadi pemicu tidak terwujudnya sebuah tulisan. Gambaran ini mungkin juga terjadi pada para penulis pemula lainnya.

Sebagai siswa/mahasiswa yang ikut aktif di organisasi kebiasaan menulis berawal dari kebiasaan menyusun proposal dan surat menyurat saat akan menyelenggarakan kegiatan. Hal itu berlanjut dengan beberapa kali iseng menulis di majalah sekolah maupun ikut lomba menulis. Alhamdulilah beberapa kali pernah mendapat kejuaraan lomba menulis. Namun hanya setiap ada lomba baru menulis dan jika ndak iku lomba ya berhentilah menulis.

Semenjak awal menjadi guru juga dihadapkan pada penyusunan satuan pelajaran yang sekarang identik dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Dan beberapa tahun kemudian menjadi penulis LKS sampai sekarang, disamping setiap akan naik pangkat menyusun Penelitian Tindakan kelas (LKS). Hal-hal seperti itu sebenarnya membantu sekali dalam pembiasaan menulis. Namun saya menyadari sekali jika pengembangan literasi seperti itu amatlah kurang. Setelah bertemu dengan teman-teman penulis hebat barulah ada keinginan mengikuti jejaknya.

Semangat ini juga saya tularkan pada anak-anak dalam kegiatan literasi di sekolah, mulai dari silent reading setiap hari senin, literasi kitab suci pada hari Sabtu, pameran literasi sampai pada literasi dalam proses pembelajaran. Saya memang tidak terlalu banyak berharap lebih dari 1400 siswa di tiap tahunnya menjadi penulis, namun setidaknya mereka suka membaca buku, kitab suci, dapat menyusun teks dengan baik, atau setidaknya memahami pelajaran semakin mudah. Pada saat pameran karya literasi saya ingin sekolah ini memiliki buku karya literasi siswa. Hanya saja selalu terkendala saat finishing. Tulisan anak-anak baik puisi, pantun, pengalaman dalam kegiatan idul fitri, idul adha sampai pada pengalaman jagong haji mereka tulis. Ketika sudah terkumpul, belum teredit dll keburu anaknya sudah keluar sekolah. Akhirnya ndak jadi karena kita berfikir pendanaan juga.

Sebenarnya dengan dibukanya seluas-luasnya program literasi disekolah kita harus berjuang menyusun dan memasukkan kegiatan literasi dalam program sekolah. Hal ini supaya memperlancar pelaksanaan sampai penerbitkan karya. Penyusunan program ini sangat tergantung pada kemauan seluruh elemen sekolah untuk berjuang dan bersinergi. Atau setidaknya peran beberapa pengambil kebijakan untuk mengaktualisasikan dalam bentuk kegiatan.

Dan sungguh tidak mudah memulai untuk mengembangkan literasi sekolah sampai menghasilkan karya. Jangankan anak-anak, guru sekalipun seringkali malas dan tidak tertarik. mereka lebih suka menggunakan bahasa verbal daripada bahasa tulis. Pengalaman dalam kegiatan silent reading tiap Hari Senin yang kurang lebih 20 menit setelah upacara. Banyak kita jumpai anak yang melarikan diri dengan berbagai alasan. atau kalau tidak ia lebih suka ngerumpi atau membaca sekedarnya. Meskipun tidak sedikit anak-anak yang membaca dengan sungguh-sungguh dan setelahnya dapat menyampaikan hasil bacaannya ditengah kawan-kawannya.

Begitu juga para guru yang diminta mendampingi anak-anak membaca justru lebih asyik bercerita atau melakukan aktivitas lainnya. Saya yakin kalau Bapak ibu  guru berada di tengah-tengah nereka pasti anak-anak lebih semangat. Apalagi jika beliau mau memberikan motivasi pasti akan luar biasa. Dan yang tak kalah pentingnya adalah dukungan dari pimpinan. hal ini bisa terwujud jika beliau mempunyai kecintaan terhadap literasi.


Komentar

  1. Soyo muuening... Kok nggih sempat nulis sibuk ppdb?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diupayakan Ust.. ..sambil ngantuk nulisnya krn dah bbrp hari ndak mungkin

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Design Pembelajaran Jarak Jauh

Cara Aman Mengatasi Blendrang

Mutu Pendidikan di Masa Pandemi Covid